Minggu, 29 Oktober 2017

Perjalanan Pertama Bersama PJKA

Perjalanan pertama saya naik kereta api (dulu masih berstatus PJKA) justru diawali di pulau Sumatra. Saya masih TK waktu itu. Kalau tidak salah sekitar tahun 1984. Saya bersama almarhum bapak naik kereta api dari Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung menuju Stasiun Baturaja, Sumatra Selatan hendak menengok paklik yang bertugas di sana.

Tidak banyak yang saya ingat selain kami berangkat dari Tanjung Karang pada pagi hari. Selama perjalanan kereta banyak melintasi wilayah dengan pepohonan yang cukup rapat di kanan kiri rel.
Selain itu saya tidak ingat lagi.

Meski banyak detail yang hilang dari ingatan, namun perjalanan pertama saya bersama PJKA sangat berkesan, karena sejak itu saya cinta kereta api.

Sabtu, 20 Juni 2009

Nyanyian Hati Senja Utama

Senja Utama Semarang 20.00

Rasa sayangku padamu ternyata bisa mengalahkan segalanya. walau seharian ini tubuhku dilanda penat, kupaksakan juga melangkah menuju stasiun membeli selembar tiket Senja Utama. Cinta, aku menghawatirkan dirimu dan juga menghawatirkan hubungan kita. Sudah beberapa hari ini kau tak membalas pesan-pesan singkatku. Aku juga tak lagi mendengar tawa renyahmu yang selalu membuatku rindu lewat telepon selularku. Dan kini, ketika kakiku perlahan menapaki anak tangga menuju gerbong, semata-mata karena aku ingin melihat lagi senyum manis yang menghiasi wajahmu.

Aku bisa mengerti kenyataan yang kau dapat beberapa hari terakhir ini membuatmu gundah. Aku bisa mengerti kesulitanmu, mau ditaruh mana muka dan kehormatan keluargamu jika suatu masa kelak mereka tahu rahasia ini. Tapi cinta, itu semua adalah masa lalu dan semua itu adalah perbuatan orang tuaku, bukan aku maupun adik-adikku. Aku memang salah tak menceritakan semuanya padamu di awal hubungan kita sehingga kamu merasa dibohongi. Namun cobalah kau tanyakan pada dirimu sendiri, jika saat itu aku menceritakan semuanya padamu, masihkah kau mau jalan denganku hingga saat ini ?

Ah cinta, aku ini cuma makhluk kecil di alam semesta maha luas yang tak pernah tahu rahasia Ilahi macam apa yang ditetapkan untukku. Aku menjalani hidup bagai rangkaian kereta yang meliuk-liuk mengikuti alur yang kadang tidak mulus dan berbunyi jeglag-jeglug tiap kali roda kereta melibas potongan-potongan rel kehidupan. Aku cuma berharap kau bisa memaafkanku dan melihat senyummu lagi saat kuketuk pintu rumahmu esok pagi.


Kamis, 18 Juni 2009

Senja di Stasiun Tawang

Semarang Tawang 16.00

Kamu selalu tertawa tiap kali kuceritakan hal ini. Orang kurang kerjaan, katamu. Namun kamu harus tau, pada hari-hari sepiku yang jauh darimu dan seiring rinduku yang makin memuncak padamu, nongkrong sore hari di emplasemen stasiun Tawang adalah obat yang mujarab. Duduk di bangku paling ujung sembari membayangkan akulah yang naik ke atas kereta untuk menempuh perjalanan menyambangimu.

Ah, cinta. Andai kau di sini bersamaku, akan kau lihat begitu banyak perpisahan terjadi sore ini. Ada seorang bapak yang mencium kening putranya diiringi air mata si anak yang tak ingin ditinggal pergi. Ada istri yang melambaikan tangan pada suami yang bergegas naik ke atas gerbong takut ketinggalan kereta yang mulai bergerak perlahan. Dan ada sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan untuk terahir kali sebelum dipisahkan jarak dan waktu.

Cinta, andai gadis di pintu kereta itu adalah kamu dan pria kekasihnya adalah aku, maka akan terus kugenggam tanganmu sampai aku tak kuat lagi berlari mengimbangi kecepatan kereta waktu membawa takdir maut yang kelak akan memisahkan kita. Karena aku begitu mencintaimu dan berharap bisa bersamamu untuk selamanya.

Cinta, seiring Argo Muria sore didepanku berlalu meninggalkan Tawang, terucap pula doaku semoga aku tak pernah terpisah darimu hingga senjakala hidup menghampiri.