Semarang Tawang 16.00
Kamu selalu tertawa tiap kali kuceritakan hal ini. Orang kurang kerjaan, katamu. Namun kamu harus tau, pada hari-hari sepiku yang jauh darimu dan seiring rinduku yang makin memuncak padamu, nongkrong sore hari di emplasemen stasiun Tawang adalah obat yang mujarab. Duduk di bangku paling ujung sembari membayangkan akulah yang naik ke atas kereta untuk menempuh perjalanan menyambangimu.
Ah, cinta. Andai kau di sini bersamaku, akan kau lihat begitu banyak perpisahan terjadi sore ini. Ada seorang bapak yang mencium kening putranya diiringi air mata si anak yang tak ingin ditinggal pergi. Ada istri yang melambaikan tangan pada suami yang bergegas naik ke atas gerbong takut ketinggalan kereta yang mulai bergerak perlahan. Dan ada sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan untuk terahir kali sebelum dipisahkan jarak dan waktu.
Cinta, andai gadis di pintu kereta itu adalah kamu dan pria kekasihnya adalah aku, maka akan terus kugenggam tanganmu sampai aku tak kuat lagi berlari mengimbangi kecepatan kereta waktu membawa takdir maut yang kelak akan memisahkan kita. Karena aku begitu mencintaimu dan berharap bisa bersamamu untuk selamanya.
Cinta, seiring Argo Muria sore didepanku berlalu meninggalkan Tawang, terucap pula doaku semoga aku tak pernah terpisah darimu hingga senjakala hidup menghampiri.
Kamu selalu tertawa tiap kali kuceritakan hal ini. Orang kurang kerjaan, katamu. Namun kamu harus tau, pada hari-hari sepiku yang jauh darimu dan seiring rinduku yang makin memuncak padamu, nongkrong sore hari di emplasemen stasiun Tawang adalah obat yang mujarab. Duduk di bangku paling ujung sembari membayangkan akulah yang naik ke atas kereta untuk menempuh perjalanan menyambangimu.
Ah, cinta. Andai kau di sini bersamaku, akan kau lihat begitu banyak perpisahan terjadi sore ini. Ada seorang bapak yang mencium kening putranya diiringi air mata si anak yang tak ingin ditinggal pergi. Ada istri yang melambaikan tangan pada suami yang bergegas naik ke atas gerbong takut ketinggalan kereta yang mulai bergerak perlahan. Dan ada sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan untuk terahir kali sebelum dipisahkan jarak dan waktu.
Cinta, andai gadis di pintu kereta itu adalah kamu dan pria kekasihnya adalah aku, maka akan terus kugenggam tanganmu sampai aku tak kuat lagi berlari mengimbangi kecepatan kereta waktu membawa takdir maut yang kelak akan memisahkan kita. Karena aku begitu mencintaimu dan berharap bisa bersamamu untuk selamanya.
Cinta, seiring Argo Muria sore didepanku berlalu meninggalkan Tawang, terucap pula doaku semoga aku tak pernah terpisah darimu hingga senjakala hidup menghampiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar